skip to Main Content
(021) 2553 9834 / 2553 9856 semanggi@myabcshop.com
Angin Segar Untuk Pengusaha Indonesia, Perubahan Pajak Barang Impor!

Angin Segar untuk Pengusaha Indonesia, Perubahan Pajak Barang Impor!

Dilansir dari finance.detik.com, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan resmi menurunkan batasan atau threshold untuk bea masuk barang impor via online atau e-commerce. Awalnya batasan nilai bebas bea masuk maksimal US$ 75 atau Rp 1.050.000, kini diturunkan menjadi maksimal US$ 3 atau Rp 45.000. Jika harganya di atas US$ 3 maka akan kena bea masuk.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Syarif Hidayat, mengungkapkan beleid itu masih dalam proses perundangan. Syarif mengatakan peraturan diberlakukan akhir Januari 2020.

Lalu sebenarnya, apa yang menyebabkan adanya perubahan ketentuan bea masuk barang impor ini?

Alasan utama dilakukannya penyesuaian tarif bea masuk brang impor adalah untuk menekan defisit transaksi berjalan. Apa itu defisit transaksi berjalan? Menurut Online-pajak.com Secara sederhana, ini adalah kondisi pendapatan suatu negara yang diperoleh dari barang/jasa/investasi yang diperoleh dari impor lebih besar dibandingkan ekspor.

Dilansir dari Katadata.co.id, CEO Tokopedia William Tanuwijaya merespons positif kebijakan tersebut. Menurut dia, kebijakan ini merupakan langkah awal yang tepat untuk mengurangi defisit neraca perdagangan yang terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir.

“Ini agar produk impor yang masuk bukan didorong ransaksi retail langsung dari pedagang luar negeri yang tidak memberikan dampak ekonomi sama sekali kepada Indonesia,” ujar William.

Dilansir dari Republika.com, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi menuturkan, rasionalisasi pajak dilakukan kecuali untuk tas, sepatu dan produk tekstil. Tarif bea masuk dan PPh tiga produk ini akan diberikan nominal di atas dari tarif normal atau most favourable nation (MFN). “Ini ditujukan untuk melindungi sentra IKM produsen tiga produk tersebut, seperti di Cibaduyut, Cihampelas dan Tajur,” katanya.

Perlakuan khusus terhadap produk sepatu, tas dan tekstil bukan tanpa sebab. Heru mengatakan, tiga produk ini kerap ditemui di pasar Indonesia berasal dari luar negeri atau impor. Dampaknya, banyak sentra perajin tas, sepatu dan tekstil terpaksa gulung tikar karena sulit bersaing dengan produk impor, terutama dari Cina, yang dijual dengan harga lebih murah.

Maka dari itu, ini menjadi kesempatan emas untuk Anda yang memiliki usaha lokal di ketiga industry tersebut. Pemerintah sudah membuka kesempatan bagi IKM untuk lebih berkembang lagi. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Segera atur strategi bisnis dan pemasaran Anda di tahun 2020 ini.

Selain itu jangan lupa untuk membuat financial planning untuk bisnis Anda di 2020 ini. Pantau secara berkala kondisi keuangan bisnis Anda dengan Accurate Online. Anda dapat memantau kondisi keuangan bisnis Anda secara langsung dengan fitur Real-Time Financial Report yang dimiliki oleh Accurate online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top