29.1 C
Jakarta
September 20, 2021
ABC Semanggi –  Aplikasi pembukuan paling TOP di indonesia
Uncategorized

Waste, Pengertian dan 7 Jenis Waste yang Terdapat di Dalam Lean Manufacturing

Waste, Pengertian dan 7 Jenis Waste yang Terdapat di Dalam Lean Manufacturing

Apakah Anda sudah mengetahui istilah waste dalam perusahaan manufaktur, bila memang belum tahu, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahasnya secara lengkap.

Sederhananya, waste adalah pemborosan pada kegiatan produksi dan tidak memiliki nilai tambah. Sehingga, hal tersebut akan membuat sumber daya manusia semakin tinggi, dan sumber daya energi pun akan meningkat, yang pada akhirnya akan semakin tidak efisien untuk perusahaan.

Lalu, bagaimana cara mengurangi biaya waste dalam proses produksi di perusahaan? salah satu caranya adalah dengan menggunakan lean manufacturing, yang mana memiliki fungsi sebagai peningkatan produksi dan juga meminimalisir pemborosan yang terjadi.

Nah, untuk Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang waste dan jenis-jenisnya, bacalah artikel ini hingga selesai.

Pengertian Waste

Berdasarkan buku lean six sigma, waste adalah suatu kegiatan proses kerja yang didalamnya tidak mampu memberikan nilai tambah atas pengolahan bahan baku di dalam value stream tertentu. Jadi, berdasarkan penjelasan ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa waste adalah sampah ataupun pemborosan yang harus dibuang ataupun harus dihilangkan.

Hal tersebut dikarenakan biaya waste bagi perusahaan, sehingga nantinya akan menimbulkan kerugian dan mengurangi tingkat keuntungan perusahaan terkait.

Selain itu, tanpa adanya value stream yang terdapat di dalam waste, maka akan membuat bahan material menjadi terbuang sia-sia, sehingga sumber daya yang mampu memberikan nilai tambah pada produksi pun akan mengalami pemborosan.

Secara garis besar, terdapat dua jenis waste yang mendasar dan harus dipertimbangkan dalam melakukan analisa menghilangkan waste, yaitu waste obvious dan waste hiden. Jenis waste obvious adalah jenis waste yang mudah sekali untuk dikenali dan bisa dihilangkan dengan segera menggunakan biaya yang minim ataupun tanpa biaya sama sekali.

Sedangkan waste hiden adalah jenis waste yang hanya bisa dihilangkan atau dibuang dengan menggunakan metode kerja terbaru, menggunakan bantuan teknologi tertentu, atau dengan menetapkan kebijakan baru.

Baca juga: Just in time adalah Sistem Manajemen Produksi yang Efektif, ini Cara Menerapkannya

Apa Saja Kegiatan yang Ada di Dalam Manufaktur?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, waste adalah segala bentuk ataupun hal yang tidak mampu meningkatkan nilai tambah pada produk. Itu artinya, waste mempunyai bentuk material yang harus dibuang, termasuk di dalamnya waktu, energi, dan juga area kerja tertentu.

Nah, bila kita perhatikan dari sisi nilai tambahnya, perusahaan manufaktur mempunyai 3 kegiatan utama,yakni

Sebelumnya jika dilihat dari segi nilai tambahnya, perusahaan manufaktur memiliki 3 aktivitas besar, yaitu:

  • Kegiatan yang memiliki nilai tambah atau yang sering sekali disebut dengan value-added activities (VA).
  • Kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah atau yang sering sekali disebut dengan non-value-added activities (NVA).
  • Pengaruh kegiatan yang tidak memiliki nilai tambah, tapi dibutuhkan, yang biasa disebut dengan enabler activities atau business non-value-added activities (VE / BNVA).

Seperti yang sudah kita singgung secara singkat sebelumnya pula, bahwa cara meminimalisir waste adalah dengan menggunakan lean manufacturing. Tujuannya adalah agar bisa menekan kerugian seminimal mungkin atau biasa disebut dengan istilah zero-waste.

Apa Saja Jenis-Jenis Waste?

Setidaknya, ada tujuh jenis waste yang terdapat di dalam proses produksi manufaktur. Tujuh jenis waste tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemborosan Transportasi

Rendahnya tingkat efisiensi waste manajemen pada desain tata letak produksi ternyata mampu menyebabkan terjadinya pemborosan dalam hal transportasi. Hal tersebut dikarenakan adanya proses pemindahan barang dari satu unit ke unit kerja yang lainnya.

Contohnya, menempatkan ruang produksi yang jauh dari QA, sehingga akan membuat proses pemindahan barang memerlukan waktu yang lebih lama. Akibatnya, volume produksi pun akan berkurang atau banyak tenaga kerja yang tidak dibutuhkan.

Efek lainnya dari pemborosan transportasi adalah penggunaan ruang yang tidak efisien di lokasi kerja, adanya waktu komunikasi yang berlebihan, adanya peningkatan work in process, serta terjadinya kerusakan produk selama proses transfer berlangsung.

2. Pemborosan Stok Barang

Sebenarnya, pemborosan stok barang ini berkaitan dengan pemborosan stok produksi yang terlalu berlebihan. Di lain hal, terlalu banyak persediaan pada komoditas juga bisa menjadi tanda produksi yang berlebih.

Umumnya, hal ini terjadi karena permintaan yang melebihi tingkat produksi yang seharusnya,dan menjadi waste management. Jika terjadi pemborosan persediaan, maka jumlah barang jadi, barang yang setengah jadi, dan juga bahan baku juga akan berlebihan. Sehingga, akan lebih banyak ruang penyimpanan untuk dibeli.

Bila memang tidak ada ruang yang cukup, maka terpaksa perusahaan harus menyewa atau membuat gudang baru, dan menambah karyawan untuk melakukan pemeliharaan, pengawasan, pengangkutan, dan juga pengelolaan. Akibatnya, biaya produksi pun akan meningkat, dan tidak akan sebanding dengan pendapatan yang didapat.

Bila barang yang diproduksi mempunyai umur simpanan yang pendek, maka barang yang disimpan pun akan mengalami kadaluarsa.

3. Pemborosan Gerakan

Pemborosan produksi ini terjadi karena adanya pergerakan ataupun kegiatan sumber daya manusia dan juga mesin yang memang tidak perlu, karena tidak mampu memberikan nilai tambah pada produk.

Misalnya saja penempatan peralatan kerja yang jauh dari jangkauan operator produksi, sehingga bagian operator produksi tersebut memerlukan waktu yang lebih lama ketika ingin menggunakannya.

Pemborosan pergerakan ini akan berefek langsung pada proses produksi yang menjadi terganggu karena pemanfaatan waktu yang memang tidak efisien. Perlahan namun pasti, waktu produksi pasti akan meningkat, dan kemungkinan besar juga akan menyebabkan kecelakaan kerja.

4. Pemborosan Waktu Menunggu

Setiap pebisnis umumnya akan berpikiran bahwa waktu adalah uang, yang mana pada suatu perusahaan yang memproduksi barang, nilai waktu selama satu detik saja mempunyai nilai yang sangat besar bila mampu digunakan dengan baik.

Namun, jika ada waktu yang mana para karyawan ataupun mesin tidak beraktivitas sesuai dengan kegiatan produksi, karena satu dan lain hal, maka hal tersebut akan dianggap sebagai pemborosan waktu menunggu.

Idealnya, waste manajemen pada suatu proses produksi mesin atau karyawan harus terus berproduksi. Sehingga, jumlah produksi harian pun bisa tetap meningkat dan memberikan keuntungan untuk perusahaan, karena terdapat biaya produksi yang bisa terus berjalan perlahan dan pasti.

5. Pemborosan Proses Secara Berlebihan

Tidak semua produk mampu memberikan nilai tambah untuk produk ataupun konsumen. Contohnya seperti pengerjaan ulang ataupun perbaikan pekerjaan sebelumnya, persetujuan yang lama ataupun pada proses pemeriksaan yang berulang.

Dampak dari adanya pemborosan ini tentu pada waktu produksi yang semakin lama. Pebisnis pun harus mampu membuat pertimbangan pada bagaimana menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, namun prosesnya tetap efisien dan lugas.

6. Pemborosan Produksi Secara Berlebihan

Kelebihan produksi pada suatu produk sangat erat kaitannya dengan pemborosan lainnya. Bila terlalu banyak barang yang dibuat, maka akan turut mempengaruhi pemborosan yang lain, seperti persediaan dan juga gerakan.

Hal ini terjadi karena tidak memperhatikan permintaan pasar, terjadi kegiatan produksi yang berlebihan dan produksi yang berjalan dengan sangat cepat. Pemborosan tersebut nantinya akan berdampak pada biaya produksi yang melonjak, persediaan yang berlebihan, kerusakan produk, dan juga peningkatan pemanfaatan ruang.

7. Pemborosan Kerusakan Produk

Kerusakan dan juga pemborosan produk ini mengacu pada situasi dan kondisi produk rusak ataupun gagal melakukan penyaringan kualitas selama proses produksi berlangsung, sehingga tidak bisa dipasarkan, walaupun beberapa diantaranya masih bisa diperbaiki.

Tapi, pihak perusahaan harus siap menanggung biaya tambahan dan sumber daya manusia untuk melakukan perbaikan tersebut. Beberapa dampak lainnya adalah pemborosan waktu dan juga staf karyawan, yang mampu mengganggu rencana produksi awal yang sudah dibuat.

Bila produk tersebut ternyata sudah lebih dulu dipasarkan, maka akan berdampak negatif untuk perusahaan, dan tingkat kepercayaan konsumen pun akan menurun.

Baca juga: FMEA Adalah: Pengertian dan Cara Menerapkannya di Dalam Manejemen Perusahaan

Penutup

Demikianlah penjelasan lengkap dari kami tentang waste, serta jenis dan juga dampaknya untuk lingkungan. Setelah membacanya, kita bisa mengetahui bahwa ada banyak sekali biaya yang menjadi pemborosan di dalam bisnis.  Hal ini tentunya akan menimbulkan kerugian dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pun menjadi meningkat.

Nah, untuk itu cobalah untuk mencatat laporan arus kas keuangan bisnis yang rapi dan tepat. Bila Anda kesulitan untuk melakukannya, maka gunakanlah software akuntansi dari Accurate Online.

Dengan menggunakan Accurate Online, Anda sudah tidak perlu lagi melakukan perhitungan manual dan juga melakukan pencatatan keuangan secara manual yang memakan banyak waktu. Anda hanya perlu memasukan beberapa data penting saja, dan Accurate Online akan menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis.

Related posts

6 Alasan Mengapa Melakukan Pembukuan Dengan Excel Tidak Efisien

Miftah

Uang Komoditas Adalah: Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangannya

Wida

Cara Memecahkan 6 Masalah Umum pada Arus Kas Bisnis

Miftah