29.1 C
Jakarta
September 20, 2021
ABC Semanggi –  Aplikasi pembukuan paling TOP di indonesia
accurate news

Lockdown Corona, Industri Pariwisata Anjlok!

Wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona yang awalnya berasal dari kota Wuhan – China mengalami penyebaran yang sangat pesat dalam 3 bulan terakhir. Penyebaran virus ini tidak main-main. Meskipun berasal dari kota Wuhan -China, namun virus ini mampu menyebar hampir ke seluruh belahan dunia. Sampai saat ulasan ini dimuat, sudah ada 128.343 kasus corona yang terkonfirmasi (live data dapat di lihat di sini).

Dari hampir 130ribu kasus yang terkonfirmasi tersebut berasal dari hampir seluruh benua mulai dari Asia, Eropa, America, Australia, dan lain sebagainya. Dengan angka terjangkit yang cukup tinggi tersebut seiring dengan angka kematian yang cukup tinggi juga, yaitu sekitar 4720 kasus kematian yang diakibatkan oleh Corona ini. Namun jangan panik, angka recovery dari Covid-19 juga sangatlah tinggi. Sampai saat ulasan ini dimuat, ada 68.324 pasien corona yang sembuh.

 

 

Dengan penyebaran yang sangat cepat ini, banyak dari negara-negara yang melakukan karantina dirinya sendiri dengan menutup penerbangan dari dan ke negara tersebut, atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Lockdown.

Dilansir dari merdeka.com, lockdown adalah upaya yang diambil pemerintah dengan melakukan penguncian diri negaranya yang menjadi upaya efektif untuk meminimalkan penyebaran virus korona (COVID-19). Dengan adanya lockdown, ada penahanan atau pembatasan kegiatan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Panic Buying Bikin Stok pangan Habis?

Pembatasan wilayah ini merupakan salah satu langkah yang dapat diupayakan untuk mencegah persebaran virus corona ini. Namun dengan adanya lockdown ini memberikan efek negatif juga untuk beberapa industri perekonomian di negara tersebut, terutama industri pariwisata.

Dilansir dari katadata.id, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, dampak penyebaran virus corona dirasakan oleh pengusaha hotel, restoran, dan maskapai penerbangan yang memiliki pangsa dan nilai investasi yang masif. Dinamika ini dikatakan sebagai force majeure atau kondisi yang tidak dapat dihindari.

Sekilas Info!

Kamu Mendapatkan Accurate Online GRATIS 30 Hati Ke depan!

Kasus corona (covid-19) telah memengaruhi sektor pariwisata di seluruh dunia, tak terkecuali Bali – Indonesia. Menurut riset Savills Indonesia, pariwisata Bali yang tumbuh 10,2 persen dalam kurun 2009-2019 akan mengalami penurunan karena wabah corona. Hal ini menyusul larangan Pemerintah terhadap penerbangan dari China masuk ke Indonesia.

Direktur WTTC (World Travel and Tourism Council) Gloria Guevara mengatakan wabah ini “menghadirkan ancaman serius terhadap industri pariwisata”.

Baca Juga: Corona Kuatkan Investasi Properti di 2020

Pernyataan ini diberikan setelah sebelumnya ribuan penerbangan internasional dibatalkan dan beberapa perusahaan asuransi menolak adanya nasabah baru untuk asuransi perjalanan.

Menurut perkiraan yang dinyatakan oleh WTTC, sektor pariwisata akan mengalami penyusutan hingga 25% pada tahun 2020.

Bali merupakan salah satu destinasi yang paling terdampak.

Selama lebih dari 40 tahun berkecimpung di bisnis pariwisata di Bali, Anak Agung Raka Bawa belum pernah mengalami situasi sesulit saat ini.

Dalam dua bulan terakhir, nyaris tidak ada turis mengunjungi usaha wahana air miliknya yang terletak di Pantai Tanjung Benoa, Badung.

“Boleh dikatakan 99% kosong, karena mayoritas tamu kami memang dari China,” kata Raka.

Pada Kamis (05/03) siang, tidak ada turis sama sekali di Rai Water Sport. Beberapa staf duduk-duduk di kursi plastik merah menyala yang memenuhi aula.

Raka, yang merintis bisnisnya sejak 1985, memutuskan untuk fokus menarik wisatawan dari China seiring dengan tren kenaikan kunjungan wisatawan dari negara tersebut.

“Walaupun harga (paket) lebih murah dibandingkan yang lain, tapi menang di (jumlah). Makanya saya senang menangani tamu China,” katanya seperti dilaporkan wartawan Anton Muhajir untuk BBC News Indonesia.

Kebanyakan turis dari China berwisata dalam rombongan, yang bisa mencapai 1.500 – 2.000 orang dalam satu grup. Setiap hari, rata-rata kunjungan ke usahanya mencapai 1.000 orang per hari.

Rai Water Sport memasang tarif US$25 (Rp 357.000) per tamu untuk satu paket naik perahu dengan alas kaca untuk melihat ikan dan penyu. Selain itu, ada pilihan kegiatan lain seperti banana boat, diving, dan sea walker.

“Rata-rata satu turis menghabiskan US$90-US$100 di sini,” lanjutnya.

Namun, kondisi itu berubah sejak virus corona mewabah di puluhan negara, yang berdampak pada pariwisata. Beberapa pemesanan sampai April 2020 pun dibatalkan.

Semoga Pandemic Virus Corona ini segera berlalu dan industri pariwisata dan perekonomian kembali normal seperti sedia kala. Stay Safe!

Related posts

Blibli.com dan Bukalapak.com Siap Tampung UKM dan UMKM Indonesia

ademuthia

Ikan Cupang, Peluang Bisnis Penghasil Cuan di Tengah Pandemi

admin

Mau Dapat GRATIS Training Accurate? Beli Accurate Sekarang dan Dapatkan Gratis Training!

ademuthia

Leave a Comment